Melihat ayah tercintanya terkapar di rumah sakit tidak sadarkan diri selama itu, Ustaz Ku Wie Han mengerti bahwa manusia tidak berdaya saat berhadapan dengan maut.
"Dari situ saya ingin mencari pegangan hidup yang ada pada agama, mungkin selama ini saya kurang bersyukur karena saat itu belum mengenal Allah," ujar pria berusia 49 tahun ini.
Jauh sebelum menjadi mualaf, ustaz berdarah Tionghoa tersebut bercerita, segala sesuatu dianggap bisa diselesaikan dengan uang ataupun yang dia punya ketika hidup di dunia, sehingga melupakan Sang Pencipta.
Oleh karena itu, ia baru mengerti bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia merupakan kehendak Sang Pencipta, sehingga dirinya ingin mencari jalan hidup yang seharusnya ia tempuh.
"Jadi saya ingin belajar agama yang bisa mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dan waktu saya belum masuk Islam," ujar pria berkacamata ini.
Kemudian tak lama setelah dirinya mengalami keresahan itu, ayah tercintanya meninggal hingga akhirnya ia memutuskan untuk mencari agama yang cocok untuk dirinya.
Dalam pencarian tersebut, ia tak hanya mempelajari agam Islam saja, Ustaz Ku Wie Han mengaku mempelajari semua ajaran agama.
"Karena dulu saya sekolah nasrani, saya banyak belajar Al-Kitab seperti perjanjian lama, perjanjian baru dan saya pelajari semuanya," katanya.
Namun, niat untuk mempelajari ajaran Islam itu terbuka setelah bertemu dengan pamannya yang lebih dulu telah menjadi mualaf yakni H Muhammad Yamin atau Yong Yun Kyang yang tinggal di Sumedang.
Saat pamannya pulang dari Singapura, ia dibawakan sebuah kitab yang belum pernah ia baca sebelumnya atau kitab terakhir yang ia baca.

