TRIBUNNEWS.COM, CIMAHI - Tubuhnya tinggi dan berkulit putih. Saat membuka ceramahnya kerap menggunakan bahasa Mandarin, kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda agar jemaahnya mengerti yang dia ucapkan.
Itulah ciri khas Ustaz Ku Wie Han, pria asal Kota Bandung.
Ustaz Ku Wie Han merupakan seorang pria etnis Tionghoa yang menjadi mualaf hingga bisa menjadi seorang ustaz yang sering mengisi tausiyah.
Ketika mengisi tausiyah pun, tak ada yang berbeda dengan ustaz yang lain, ia pun fasih ketika membacakan dalil atau lafadz Alquran.
Pria yang telah mengganti namanya menjadi Muhammad Karim Abdurrahman ini telah masuk Islam sejak 30 tahun yang lalu atau ketika usianya
menginjak 18 tahun.
menginjak 18 tahun.
Bisa menganut Agama Islam bagi Ustaz Ku Wie Han merupakan suatu hidayah yang mampu membawanya ke kehidupan yang lebih tenang.
Ketenangan itu didapatnya setelah dirinya bisa membaca dan memahami setiap bacaan kitab suci umat Islam yakni Alquran.
"Saya mendapat hidayah setelah keluar SMA, setelah ayah saya sakit keras dan masuk Rumah Sakit Borromeus waktu saya kelas 2 SMA tahun 1988," ujar Ustaz Ku Wie Han saat ditemui Tribun Jabar usai mengisi tausiyah di Cibabat Park, Kota Cimahi, Minggu (20/5/2018).
Saat itu, sang ayah mengalami sakit keras karena menderita penyakit diabetes dan komplikasi hingga koma selama tiga bulan di rumah sakit.

