Kendati demikian, kata H. Syafie, larangan untuk membangun rumah tersebut dilanggar oleh segelintir penduduk kampung.
"Saat orang tua berupaya menjaga tradisi, tapi anak cucunya ada saja yang membangun rumah gedong, padahal itu diajarkan oleh Eyang untuk menjaga kerendahan hati, karena hidup itu sementara dan kita akan berpulang ke akhirat nanti yang kekal," ujar pria berjanggut tebal itu.
Pernah suatu ketika satu keluarga berupaya membuat sumur di dalam kampung, tapi sumur tersebut tidak pernah rampung dikarenakan tanah galian yang terus amblas ditambah dengan munculnya berbagai hewan melata dari dalam lubang galian.
Kendati demikian, Eyang Dalem Abdul Manaf, hanya memberlakukan larangan tersebut hanya di dalam kampung saja.
"Eyang pernah memerintahkan untuk menggunakan Sungai Citarum yang dulu bersih untuk segala keperluan, boleh saja membangun sumur, asalkan di luar kampung," kata dia.
Beliau membuat penanda batas Kampung Mahmud berupa tugu batu dengan ukiran berbentuk kepala di atasnya di sebelah utara kampung.
Pasalnya, Kampung Mahmud dibatasi oleh Sungai Citarum di bagian lainnya.
Sekarang, tugu tersebut disimpan rapat dengan kelambu di dalam ruangan berpagar besi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Termasuk pencurian dan pengrusakan tugu.
"Padahal itu hanya sebagai penanda saja, bukan untuk yang lain," kata dia.
H. Syafie dan sebagian besar masyarakat di sana percaya jika roh dari seorang waliyulah akan tetap ada, bahkan dapat berinteraksi dengan keturunannya.
Banyak peziarah yang datang untuk ikut berdoa.
"Kalau malam Jumat dan Minggu ramai yang datang ke sini, kalau saat Ramadhan seperti ini agak jarang," ujar H. Syafie.

