Dalam perjalanannya menyebarkan ajaran Islam, Eyang Agung Dalem Abdul Manaf didampingi dua murid yang patuh terhadap ajaran Islam.
Mereka adalah Eyang Agung Zainal Arif dan Eyang Abdullah Gedug.
Mereka adalah Eyang Agung Zainal Arif dan Eyang Abdullah Gedug.
Eyang Agung Zainal Arif merupakan putra dari Eyang Asmadin dan keturunan keempat dari Syeikh Abdul Muhi dari Pamijahan, Karangnunggal, Tasikmalaya.
Khusus untuk Eyang Agung Zainal Arif, ia ditugaskan oleh Eyang Dalem Abdul Manaf untuk melakukan uzlah atau bertapa selama 33 tahun di 33 gunung.
Sedangkan Eyang Abdullah Gedug dididik langsung oleh Eyang Dalem Abdul Manaf.
Atas izin Allah, kata H. Syafie, agama Islam dapat menyebar secara cepat di tatar Priangan.
Ilmu tauhid menjadi salah satu ajaran yang paling dikemukakan oleh Eyang Dalem Abdul Manaf disamping mengajarkan kepada pengikut ajarannya untuk berperilaku rendah hati dan mencontoh amalan Rasulullah Muhammad SAW.
Oleh karena itu, beliau memberikan beberapa pantangan untuk keluarga maupun pengikutnya.
Mulai dari larangan berternak kambing dan angsa (soang), menggelar wayang, menabuh go'ong, menampilkan jaipongan, membuat sumur, hingga membuat rumah megah yang terbuat dari bata dan memasang kaca.
Larangan tersebut dijalankan dengan baik oleh warga Kampung Mahmud yang kebanyakan merupakan keturunan dari Eyang Dalem Abdul Manaf.
Rumah-rumah di kampung tersebut sebagian besar berbentuk panggung dengan dinding dari bilik bambu dan tidak menggunakan genteng barong dan tembok.
Tak gubahnya rumah penduduk, Masjid raya dan madrasah yang berada di dalam kampung pun menunjukkan rancang bangun yang serupa dengan menerapkan filosofis Sunda.

